Free Visitor Counter

EYES

click!

Sabtu, 24 Maret 2012

FREECORTEEN posting ulang (THIS WHY I LOVE THEM)


Udah pada tau kan freecorteen apaan?

Nah!

Sekarang gue mau curhat aja nih, kenapa gue bisa sayang banget sama kelas gue yang satu ini :)

Kalo waktu smt 1 kan udah pernah gue ceritain kan gimana yg dirasa waktu baru masuk kelas 10.9 dan resmi jadi bagian dari freecorteen yang waktu itu belum ada namanya. kalau mau liat post-nya bisa lihat disini. di post itu juga ada tentang pertama kalinya kita jalan bareng buat buka bersama!

Setelah itu gue juga udah pernah nulis tentang acara random kita buat nyari makan, kan? kalo lupa bisa klik disini juga.

Udah masuk smt dua dan kita semua jadi makin deket, deketnya tuh bahkan bisa dibilang ga ketara. Gatau kenapa, tapi gue ngerasa gue sangat beruntung bisa jadi bagian dari freecorteen! Gue bener-bener ngerasa ini kelas yg paling cocok! Anaknya ga ada yang kelewat bandel! semuanya friendly! asik-asik dan ... seru banget ga bisa diungkapin kata-kata.

mungkin kali ini gue mau post ga serandom biasanya kalo gue post tentang curahan hati gue. eaa. OK! kali ini gue bakal post tentang momen-momen yang gabakal bisa gue lupain! yang pastinya gue alami bareng sama anak-anak freecorteen\m/

HAPPY BIRTHDAY WULAN.

jujur ini pertama kalinya gue nyiram orang pake tepung. alhasil tempat jatuhnya tepung-tepung itu gak pas abis, di muka dan kena mata. Masih pemula :))

Jadi ceritanya abis rapat osis yang lupa waktu itu rapatin apaan, tiba-tiba inget, besok wulan ulang tahun. gue sama pia menyusun rencana yang super dadakan dan akhirnya kita lanjutkan pembicaraan itu di sms.

Rencananya hari pas wulan (ulan/uyan/unyawn) ulang tahun mau kerumah dia, tapi banyak anak-anak yang gabisa, dan juga ulannya menghilang bersama teman-temannya. akhirnya fix batal. karena gue kira gabakal jadi acara ngasih kejutan itu, gue pun memutuskan untuk memutuskan memberi ucapan lewat twitter karena ga punya pulsa buat sms atau tlp -,-

Ternyata secara tiba-tiba teman-teman di group bbm mengisyaratkan kalo mereka bisa ke rumah ulan satu hari setelah hari ulang tahunnya itu. Akhirnya kita kembali menyusun rencana.

Fix gue berangkat bersama surini dan tita menuju kfc deket rumah ulan. Sayangnya pia gabisa ikut, gara-gara dia lagi dirumah sodaranya. Yang denger-denger sebenernya dia lagi berjalan dan memakai daster saat berpapasan mobilku dengan dirinya.. poor pia.

Jalanan yang macet bikin atri, abang, ghina, emir, syaka, reza nunggu dengan cukup lama di kfcnya. Diperjalanan menuju kfc, gue baca tweet ulan. 'Otw Dreamland' gue panik sepanik paniknya panik... jangan-jangan ulan pergi.. akhirnya gue bilang ke ghina, kayaknya ga jadi soalnya ulannya pergi. Berhubung ghina ga punya twitter, dia gabisa ngecek apa yang baru gue baca. Dan disitu ghina dkk sewot grgr mendadak gajadi. salah ulannya sih...

Akhirnya kita tetep jadi. dan gue pun sampai di kfc. Kita langsung menyerbu sebuah toko kue dan memilih kue yang paling enak dan paling murah #MentalAnakKos... bukan #MetalnyaAnakKos (lucu kan, broh?)

Kue udah dapet dan kita langsung menluncur ke rumah ulan. Tiba-tiba dengan ajaib kumis dan sikit datang dari arah berlawanan dan kita teriakin supaya balik arah dan ikutin kita (alay enough?)

Sesampai di rumah ulan kita liat rumah ulan yang sepi... sunyi... gelap. fix apa yang gue bilang, dia ke dreamland (disini gue masih berfikir kalo dreamland adalah suatu tempat yang bernama 'dreamland'). Dan akhirnya gue cerita dengan mereka-mereka tweet dreamland ulan itu. dan gue sadar, betapa lawaknya gue.

Kita nungguuin ulan dengan cukup lama. Akhirnya mulai ga sabar kita telfon ulan dan bilang "gue sama surini mau minjem buku buat belajar" gue kalo jadi ulan ga percaya ya, ngapain coba minjem buku ke ulan dan rumah ulan itu jauhnya seujung dunia.

Alhamdulillah akhirnya ulan datang! dan ini lah yang terjadi saat ulan datang :D





next gue mau nulis ttg ulang tahunnya ghina, ulang tahunnya pia, dan sleepover di rumah gue :D

STAY COOL STAY TUNE \m/


Kamis, 22 Maret 2012

FREECORTEEN

FREECORTEEN? iya gue jg bingung ini kenapa jadi FREECORTEEN. Yang pasti yang di jelasin sama bio dari FREECORTEEN itu...

"We are the FRέέCOπtέέN(Friendly Corner Ten Nine),10.9 2011-2012,we're consists 34 people and our km is and our lovely bu surti,motto kami "

Anak kelas 10.9 yang gagal gaul. Kita.

kalo mau lihat twitternya itu bisa dilihat disini... klik aja tulisan 'disini'nya.. gue lagi mencoba gaul menggunakan hyperlink di blog.

Avatarnya itu isinya anak 10.9 yang sedang bahagia karena mendapat kue secara cuma-cuma dari Ghina. Tapi sayang di avatarnya kita kurang satu orang... Atri.

Freecorteen ini buatan Yorkie.. awalnya dia sobet rahasia dan pake admin-adminan. Tapi akhirnya dia ngaku juga dan ga ada yang percaya. Kasian.

Sekarang Freecorteen itu digunain but minta ppt dan menggilanya anak 10.9.

udah ah cerita ttg twitter freecoreteennya.. sekarang gue mau cerita tentang freecorteen yang sesungguhnya\m/

Freecoreteen itu nama anak untuk kelas 10.9.. yak. pasti kalian udah tau. anak kelas sepuluh sembilan itu......
random abis. kita semua beda.. kita semua lain.. kita semua ga ada yang sama.. tapi ini yang buat kita jadi klop!!

Wali kelas kita itu bu Surti. Bu Surti memang terkenal jahanamnya, tapi jauh di sisi jahanamnya itu, bu Surti suka melawak dan rajin tersenyum! faktanya itu bu Surti tidak sejahanam yang kalian (atau kita) fikirkan.. dia ibu yang baik O:')

Anak 10.9 itu semuanya unik, bung!! tapi karena gue males ngetik, gue bakal bikin rangkuman dari keunikan kita saja? OKEH.

gue: Gue disini mau narsis. Uniknya gue itu....... jorok. ga tau kenapa semenjak kenal sama anak-anak freecorteen gue jadi jorok akut. ngupil dimana aja sesuka gue... mandi sampe di aduin ke sensei lia, dan ada lagi cuman buat anak freecorteen yang tau, blog, u're not allowed :P

biar adil gue urut sesuai absen eya...
eh gue ga afal absen... ya udah.. sesuai tempat duduk ea...

yaaaah.... gue mendadak ga punya ide nih buat komenin anak-anak freecorteen -,- ada yang mau komenin kita? atau kalian mau komen tentang kalian sendiri?

KOMEN DIBAWAH EAA

xoxo

Selasa, 20 Maret 2012



Jumat, 16 Maret 2012

THIS

Sabtu, 10 Maret 2012

This is, SO TRUE.

. When a girl is quiet, millions of things are running in her mind.
. When a girl is not arguing, she is thinking deeply.
. When a girl looks at you with eyes full of questions, she is wondering how long you will be around.
. When a girl answers “I’m fine” after a few seconds, she is not at all fine.
. When a girl stares at you, she is wondering why you are lying.
. When a girl lays on your chest, she is wishing for you to be hers forever.
. When a girl wants to see you everyday, she wants to be pampered.
. When a girl says “I love you”, she means it.
. When a girl says “I miss you”, no one in this world can miss you more than that.


So girls, find a guy who calls you beautiful, instead of hot.

Who calls you back when you hang up on him.

Who will stay awake, just to watch you sleep.

Who wants to show you off to the world when you are in your sweats.

Who holds your hand in front of his friends.

Who is constantly reminding you of how much he cares about you and how lucky he is to have you.

Who turns to his friends, and says “That’s her”.[sarahdeshita.tumblr.com]

Minggu, 04 Maret 2012

Kisah Nyata Dahsyatnya Keluarga Sakinah

Namaku Wina lengkapnya Sri Winarsih, kini usiaku sudah mencapai 28 tahun. Aku dilahirkan dari keluarga yang sangat sederhana. Ayahku seorang pegawai negeri dengan penghasilan yang sangat rendah, sedangkan ibu seorang ibu rumah tangga yang hanya dapat membantu meringankan suaminya dengan berjualan jajanan keliling kampung. Seingatku, aku tidak pernah mendengar ayah ibuku mengeluhkan tentang hal itu.

Aku dilahirkan dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Aku tidak sempurna seperti bayi-bayi lainnya, tubuhku kecil karena aku lahir prematur. Mungkin karena ibu terlalu giat bekerja agar dapat membantu ayahku dalam mencari nafkah. Oleh karena orang tua tidak mempunyai banyak biaya untuk perawatanku di rumah sakit, maka orang tuaku membawaku pulang ke rumah untuk dirawat dengan peralatan seadanya. Berkat dukungan ayahku, ibuku merawatku sebaiknya mungkin dengan sangat berhati-hati. Sehubungan aku lahir belum cukup umur maka tubuhku membutuhkan kehangatan yang lebih, kata ibuku dulu untuk dapat menghangat tubuhku maka digunakan lampu belajar bekas pemberian tetangga. Orang tuaku berharap aku dapat tumbuh dengan sempurna seperti layaknya anak-anak pada umumnya.

Alhamdulillah dengan dukungan ayahku dan berkat pertolongan Allah maka aku dapat tumbuh dengan cepat dan sehat. Namun di tengah perjalanan hidupku terjadi suatu kecelakaan yang dampaknya terasa hingga tamat SMA. Saat berusia 5 bulan aku jatuh dari tempat tidur ibuku. Saat itu ibuku sedang membuat kue untuk dijual hari itu. Ibu terkejut mendengar tangisanku yang secara tiba-tiba itu. Aku sudah tergeletak di atas lantai. Setelah diperiksa, alhamdulillah tidak ada cedera di tubuhku. Ibu tidak membawaku ke rumah sakit hanya diperiksa sendiri saja, karena saat itu ibu tidak punya uang. Dengan cekatan ibu menggendongku dengan penuh kasih sayang, dengan kehangatannya yang hingga saat ini masih terasa dan selalu kurindukan.

Sejak kecil aku mengalami kesulitan dalam melakukan gerakan, tubuhku kaku, tidak lincah seperti teman-temanku. Semakin besar gerakanku semakin kaku, sampai akhirnya aku di bawa ke rumah sakit yang berada jauh dari desa kami tinggal. Sebetulnya orang tuaku tidak mempunyai uang untuk itu, tetapi dengan berbagai usaha yang halal akhirnya ayahku mampu mengumpulkan sedikit uang untuk berobat ke kota.

Sesampainya di rumah sakit aku ditangani oleh seorang dokter yang cantik dan baik hati, lemah lembut tutur katanya, namanya dokter Mila.

Dari pemeriksaannya ternyata aku mengalami kelainan pada tulang kaki dan tanganku, sehingga aku harus menjalani beberapa terapi untuk menormalkan kembali fungsi tulang-tulangku agar bisa berjalan dengan baik. Salah satu penyebabnya kemungkinan pada saat aku terjatuh pada usia 5 bulan itu. Baru beberapa hari aku tinggal di rumah sakit persediaan uang ayahku menipis, akhirnya dengan sangat terpaksa ayah ibu membawaku kembali ke kampung. Orang tuaku pasrah atas ujian yang Allah berikan. Apapun yang akan terjadi semua adalah kehendak-Nya. Usaha orang tuaku patut kuacungi dua jempol, bahkan bila memungkinkan empat jempol sekaligus.

Dengan telaten setiap hari ibuku melakukan terapi sendiri di rumah, sementara ayahku membuatkan aku tempat untuk belajar berjalan dari bambu. Sebelum ayahku pergi bekerja aku selalu diajak untuk melakukan latihan secara rutin dengan penuh kasih sayang. Aku melihat tidak ada sedikitpun guratan kesedihan di wajah mereka, senyum bahagia selalu menyelimuti bibirnya saat memberi semangat padaku untuk melakukan latihan tersebut. Apalagi kalau sudah melihat aku bosan, ibu selalu membujuknya dengan janji akan membuatkan aku makanan kesukaanku. Ayah pun demikian tidak pernah luput memujiku dengan perkembangan kemampuanku untuk berjalan.

Tanpa terasa aku sudah duduk di bangku SMA, aku masih selalu diantar jemput oleh ibuku karena aku memang belum dapat berjalan dengan sempurna. Jalanku masih pelan-pelan takut jatuh, ibu selalu menggandeng tanganku dan memapah aku berjalan. Kegigihan beliau dalam membimbing, benar-benar memacu hatiku untuk bertekad mewujudkan cita-citaku menjadi seorang dokter ahli tulang yang cantik dan sukses seperti Dokter Mila.

Hari demi hari kulalui dengan dukungan dan kehangatan orang tuaku, terutama ibu. Sampailah pada tahun ke 3 di SMA, prestasi belajarku melesat cepat, nilai pelajaranku sangat baik.

Pertolongan Allah pun tiba. Aku mendapatkan bantuan dari Pak Haji Sholehudin, seorang yang dermawan di kampungku, sehingga orang tuaku tidak begitu dipusingkan dengan biaya sekolahku di SMA. Walaupun demikian ayah dan ibuku tidak berhenti atau bermalas-malasan mencari nafkah, karena pada prinsipnya tidak mau merepotkan orang lain.

Pak Haji Sholeh adalah pedagang di pasar di kota, istri tercintanya telah meninggal dunia 15 tahun yang lalu. Meski usahanya sangat maju namun kehidupannya sangat sederhana. Beliau hidup bersama 5 orang anak yatim piatu di rumahnya yang sangat sederhana. Kepeduliannya kepada orang yang tidak mampu jauh lebih peduli dibandingkan dengan orang kaya yang ada di kampungku. Menurut cerita dari ibuku, sejak masih muda beliau gemar sekali bersedekah, begitu pula dengan almarhum istrinya. Baginya harta dia sesungguhnya adalah harta yang dia berikan untuk orang lain. Subhanallah!!

...Allah mendengar doa dan harapan orangtuaku dalam shalat Tahajud di keheningan malam yang sepi. Tak henti-hentinya ibu berdoa untuk kebahagiaan dan keberhasilanku...

Dengan segala keterbatasan dan dukungan dari orangtua, aku mampu menyelesaikan pendidikan di SMA dengan prestasi dan nilai yang gemilang. Acara wisuda di sekolah sangat meriah. Kami saling berpelukan, menangis karena haru bahagia. Kami sadar kami akan berpisah dengan teman-teman dan entah apakah kami akan bertemu kembali atau tidak. Kelak kami akan menjadi apa? Kami tidak tahu, semua itu adalah rahasia Ilahi.

Allah mendengar dan mengabulkan semua doa dan harapan orang tuaku, yang selalu kudengar saat ibuku selesai menunaikan shalat Tahajud di keheningan malam yang sepi. Bersamaan dengan mengalirnya airmata dari bola matanya yang indah kemudian sebait doa pun meluncur dari bibirnya. Tak henti-hentinya ibu selalu mendoakan aku, demi kebahagiaanku, keberhasilanku. Kadang aku berpikir kapankah ibu tidur? Setiap aku terbangun ibu sedang berzikir, berdoa, mengaji, shalat dan banyak lagi serangkaian ibadah yang dilakukannya.

Selepas SMA aku diterima di Perguruan Tinggi Negeri yang paling terkemuka di Indonesia, dengan jurusan yang diminati banyak pelajar SMA yaitu Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI).

Terima kasih Ya Allah, Kau mengabulkan cita-citaku menjadi mahasiswa kedokteran apalagi di Universitas Indonesia. Subhanallah tiada henti-hentinya aku bersyukur.

Mendapat kenikmatan besar dan musibah memilukan

Qadarullah, mungkin karena kelewat bahagianya mendengar aku diterima di Fakultas Kedokteran UI, ayahku kena serangan jantung kemudian meninggal dunia. Sejak itu ibuku hijrah ke Jakarta, menemaniku karena aku saat itu belum sempurna betul. Setelah mengantarkan aku ke kampus, ibu pergi bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumah seorang dokter yang kebetulan menjadi dosenku, namanya dr. Sudiyanto SpBO (dokter Spesialis Bedah Orthopedi). Dosen yang baik hati ini memiliki 2 anak yang secara kebetulan anak sulungnya adalah kakak kelasku, 3 tahun diatasku.

Dr Sudiyanto pun merasa prihatin dengan kondisiku, sehingga dengan tulus membantuku pengobatanku dengan terapi medis secara gratis. Alhamdulillah dalam jangka waktu 1,5 tahun aku sudah dapat berjalan dan tanganku dapat digerakkan dengan lentur seperti teman-temanku yang lainnya.

Sepeninggal ayah, aku mendapatkan beasiswa karena aku termasuk anak yatim yang berprestasi, dan dari keluarga yang miskin.

Hari demi hari kulalui bersama ibuku, dengan kesetiaannya ibuku selalu menemani aku dalam belajar, selalu memberi semangat, menjadi inspirasiku dalam menyelesaikan studiku. Dalam jangka waktu 5 tahun aku lulus sebagai dokter umum, kemudian dilanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi sebagai dokter spesialis bedah orthopedic, sesuai cita-citaku dulu. Pendidikan ini pun dapat kuselesaikan dalam jangka waktu 3 tahun. Allahu akbar!

...Ibu telah mengantarkan aku menjadi seorang dokter dengan kelembutan, kesabaran, ketekunan, dan doa tulus yang dikabulkan Allah...

Tibalah saatnya aku menjalani wisuda sebagai Dokter Spesialis Bedah Ortopedi. Dalam hatiku dan selalu dipenuhi rasa syukur kepada Allah. Malam hari sebelum wisuda aku tidak bisa tidur, kupandangi wajah ibuku yang sudah tampak tua kelelahan, aku hanya bisa berucap lembut: “Ibuuuuu, terima kasih karena kau telah mengantarkan aku menjadi seorang dokter dengan kelembutan, kehangatan, kesabaran, ketekunan, yang pasti doamu sangat tulus untukku, Allah telah mengabulkan doamu. Aku persembahkan gelar dan ijazahku untukmu, engkaulah yang patut mendapatkan gelar itu. Ibuuuu aku sangat mencintaimu…”

Tanpa terasa matahari pun muncul dari persembunyiannya, aku dan ibuku sibuk mempersiapkan diri untuk menghadiri upacara wisuda. Kami berangkat dengan menggunakan becak, namun tiba-tiba kami dikejutkan dengan kedatangan Dr Ade Sutisna, putra sulung Dr Sudiyanto.

Saat itu kami hendak menaiki becak yang sudah kami pesan, dengan sedikit memaksa beliau mengajak kami untuk ikut masuk ke dalam kendaraannya. Sebagai penghargaan padanya akhirnya kami mengikutinya. Sesampainya di kampus UI ternyata aku sudah ditunggu oleh Dr Sudiyanto dan istrinya.

...Subhanallah di zaman modern ini masih tersisa manusia ningrat yang mau menjadikan orang miskin menjadi menantu tanpa pertentangan...

Sepulang acara wisuda, malam harinya keluarga Dr Ade Sutisna berkunjung ke rumah kontrakan kami yang sangat kecil. Di luar dugaan, kunjungan mereka bertujuan melamarku untuk dijodohkan dengan Dr Ade. Subhanallah, kami hanya mampu menangis haru dan rasa syukur. Ternyata di zaman modern ini masih tersisa manusia ningrat yang mau menjadikan orang miskin ini menjadi menantunya tanpa proses pertentangan. Rupanya sejak aku masuk kuliah Dr. Sudiyanto sudah berniat menjodohkan aku dengan putranya. Tanpa sepengetahuan beliau dr Ade menaruh hati padaku.

Dua tahun kemudian kami menikah dan merajut keluarga sakinah hingga sekarang. Dalam kebahagiaanku, kebaikan almarhum ayahku tak pernah terlupakan. Hanya doa yang kupanjatkan kepada Allah, satu-satunya balas jasaku pada ayahku. Semoga doaku menjadi amal ayah yang tiada terputus.

Duhai ayah, seandainya saat ini Allah mengizinkanmu masih hidup, betapa bahagianya dirimu, ikut merasakan kebahagiaanku. [voa-islam.com]

go click my account :D

twitter. facebook.
rararahma@hotmail.com

em ewh

rahmadina. Diberdayakan oleh Blogger.