Kamis, 09 Agustus 2012
Lagi Apa?
Lagi random banget rasanya. Mau sedih gak ada yg bisa di sedihin. Mau nyalahin gak ada yg bisa di salahin. Mau seneng, gak ada yg bisa di senengin. Mau ngomel, gak ada yg bisa di omelin. Mau galau, gak ada yg bisa di galauin. Mau makan, gak ada yg bisa dimakan juga.
Lagi apa? Lagi, lagi apa yah, gak tau. Lagi nulis blog? Atau kamu? Yang lagi baca blog aku? Sebenernya kenapa sih? Apa yang terjadi? Lagi ada apa sih?
Lagi pusing sama isi blog ini? Atau ngerasa gak guna banget baca tulisan ini? Aku juga gak ngerti. Gak ada juga hal yang buat di ngertiin sama tulisan yang udah kamu baca sampai 4 paragraph ini.
Lagi apa sih kamu yang disana? Lagi bosen ya baca kata-kata "lagi" di mana-mana? Atau malah gak sadar sama sekali?
Sebenernya kenapa sih? Lagi-lagi selalu itu yang ditanyakan. Aku sendiri gak ngerti. Udah dibilang lagi random semuanya, lagi gak jelas, lagi gak sesuai, lagi gak selaras, lagi gak mau ngerti juga.
Lagi-lagi kegiatan satu ini membuatku bosan. Sepertinya tidak ada hal yang berguna lagi. Selamat tidur semuanya, jangan lupa sahur besok.
Terutama buat kamu yang disana, yang aku sayang, yang lagi tidur, atau mungkin yang nanti akan bangun dan baca blog ini. Mimpi indah.
Aku kangen kamu.
Oh ternyta, aku seperti ini karena lagi kangen. Lagi kangen kamu. Alfadil...
Gara-gara kamu yah, bukan gara-gara kamu ading, tapi gara gara si "kangen".
"kamu lagi apa?"
"lagi kangen kamu :-)"
Sabtu, 07 Juli 2012
FREECORTEEN FAREWELL PARTY {} part 1
Tanggal 27-28 kemarin, kelasku sukses besar ngadain perpisahan di cibalung, nama tempatnya happy land. Kita lengkap ngebawa 34-34nya buat ikut perpisahan, ya ampun sayang banget sama kelas ini, bener-bener ngerasa kompak dan udah kayak keluarga sm masing-masing anaknya <3
Perjalanan kita mulai jam 10 pagi. Aku datang lebih telat dari yang lain, soalnya aku harus ngurusin film dokumenter. Kalau mau lihat filmnya bisa di klik disini tapi film yang tadi itu blm lengkap soalnya masih ada kumpulan video juga yang rencananya bakal di masukin tapi belakangan, hehehe.
Sedikit cerita aja, aku udah mulai coba save film itu udah sekitar dari jam 8 pagi dan terakhir nyerah di angka 99% karena buat nyampe satu persennya itu hampir 1 jam. Deg-degannya kuadrat pangkat empat. feeling2 udah gak enak, takut bgt kalo misalnya jadi gak kesampean buat nonton film dokumnya, karena itu perjuangan banget. makasi makasi *dilemparin bunga*
skip skip bagian itu. pokoknya di bis masih rada stress soalnya ngurusin film hahahaha. sampai akhirnya ketemu blue screen dan bener-bener nyerah, wait.... bukan ketemu blue screen baru nyerah, ketemu alfamart! hahahai bener bgt kita stop di pemberhentian gitu, disana kita beli ber dus-dus mie, sebenernya sih cuman 1 hahaha, terus ada juga jelmaan slurpee gitu, kata abangnya itu yogurt, tp aku tidak merasakan begitu adanya, sudah aku tidak tahu apa apa. dan beberapa kejadian konyol terjadi setelah ini. kita mengisi "slurpee-slurpeean" itu sampai sepenuh2nya dan akhirnya bleber mana mana. agak malu lah hahaha <3
lanjutin perjalanan dan bis makin rame! dari yg galih nyanyi we're the champions sampe ical yg mendadak jadi agung hercules ahahahaha terus juga emir yg di godain terus sama galih, dan banyak banyak banget lagi <3 oh ya inget banget grgr jalannya curam-curam gitu, kita di jalan teriak2 dan itu sangat sewwwruuu <:O
sampai di sana aku langsung pipis ._.v dan setelah pipis aku langsung ngerjain film lagi, hahaha jadi banyak moment yang aku lewatkan saat pertama kali datang :'
Pokoknya setelah semua dokum terselesaikan dengan baik di laptopku, pokoknya begitulah, aku ikut main!!! pertama kita ngeliat2 dulu semua wahana yg kita bisa mainin, terus setelah berjalan jauh, akhirnya aku, ulan, nita, tami, epin tertarik untuk memerah susu dan yg lain main di empang, main getek :3 tapi pada akhirnya aku, ulan, nita, tami, evin, dan tambah satu lg, pia, yg mau main malah gak jadi meras susu sapi, malah anak2 cowo yg meras susu sapinya -,-. Tapi akhirnya kita main ATV!!! kece loh aku bisa naikinnya, padahal naik motor aja gak bisa hahaha :-D terus aku naik ATV-nya lawan pia, dan aku yg menang wihwww!!!
Setelah lama bermain ATV aku dan gita bermain......kucing, wadoooh jauh2 malah main kucing hahaha! tp akhirnya fachrur dan isti juga ikutan main kucing!! Kucingnya ganteng asli, suer suer ganteng banget <3 <3 keren gitu macho gak ada ikut2nya ._. nanti aku kasih liat fotonya deh :D
abis itu balik ke kamar, buat istirahat aja, abis istirahat kita main perang bantal!! ya ampun percaya deh, bantalnya berat bgtbgtbgt -,- 2kg lebih kali. Lupa gimana, tp aku kalah lawan pia dan menang lawan ulan, dan paling paling paling kalah lawan bantalnya itu sendiri, maigat gak gak gak kuat, berat suer -,-
Sabtu, 24 Maret 2012
FREECORTEEN posting ulang (THIS WHY I LOVE THEM)
next gue mau nulis ttg ulang tahunnya ghina, ulang tahunnya pia, dan sleepover di rumah gue :D
STAY COOL STAY TUNE \m/
Kamis, 22 Maret 2012
FREECORTEEN
Selasa, 20 Maret 2012
Jumat, 16 Maret 2012
Sabtu, 10 Maret 2012
This is, SO TRUE.
. When a girl is not arguing, she is thinking deeply.
. When a girl looks at you with eyes full of questions, she is wondering how long you will be around.
. When a girl answers “I’m fine” after a few seconds, she is not at all fine.
. When a girl stares at you, she is wondering why you are lying.
. When a girl lays on your chest, she is wishing for you to be hers forever.
. When a girl wants to see you everyday, she wants to be pampered.
. When a girl says “I love you”, she means it.
. When a girl says “I miss you”, no one in this world can miss you more than that.
Who calls you back when you hang up on him.
Who will stay awake, just to watch you sleep.
Who wants to show you off to the world when you are in your sweats.
Who holds your hand in front of his friends.
Who is constantly reminding you of how much he cares about you and how lucky he is to have you.
Who turns to his friends, and says “That’s her”.[sarahdeshita.tumblr.com]
Minggu, 04 Maret 2012
Kisah Nyata Dahsyatnya Keluarga Sakinah
Namaku Wina lengkapnya Sri Winarsih, kini usiaku sudah mencapai 28 tahun. Aku dilahirkan dari keluarga yang sangat sederhana. Ayahku seorang pegawai negeri dengan penghasilan yang sangat rendah, sedangkan ibu seorang ibu rumah tangga yang hanya dapat membantu meringankan suaminya dengan berjualan jajanan keliling kampung. Seingatku, aku tidak pernah mendengar ayah ibuku mengeluhkan tentang hal itu.
Aku dilahirkan dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Aku tidak sempurna seperti bayi-bayi lainnya, tubuhku kecil karena aku lahir prematur. Mungkin karena ibu terlalu giat bekerja agar dapat membantu ayahku dalam mencari nafkah. Oleh karena orang tua tidak mempunyai banyak biaya untuk perawatanku di rumah sakit, maka orang tuaku membawaku pulang ke rumah untuk dirawat dengan peralatan seadanya. Berkat dukungan ayahku, ibuku merawatku sebaiknya mungkin dengan sangat berhati-hati. Sehubungan aku lahir belum cukup umur maka tubuhku membutuhkan kehangatan yang lebih, kata ibuku dulu untuk dapat menghangat tubuhku maka digunakan lampu belajar bekas pemberian tetangga. Orang tuaku berharap aku dapat tumbuh dengan sempurna seperti layaknya anak-anak pada umumnya.
Alhamdulillah dengan dukungan ayahku dan berkat pertolongan Allah maka aku dapat tumbuh dengan cepat dan sehat. Namun di tengah perjalanan hidupku terjadi suatu kecelakaan yang dampaknya terasa hingga tamat SMA. Saat berusia 5 bulan aku jatuh dari tempat tidur ibuku. Saat itu ibuku sedang membuat kue untuk dijual hari itu. Ibu terkejut mendengar tangisanku yang secara tiba-tiba itu. Aku sudah tergeletak di atas lantai. Setelah diperiksa, alhamdulillah tidak ada cedera di tubuhku. Ibu tidak membawaku ke rumah sakit hanya diperiksa sendiri saja, karena saat itu ibu tidak punya uang. Dengan cekatan ibu menggendongku dengan penuh kasih sayang, dengan kehangatannya yang hingga saat ini masih terasa dan selalu kurindukan.
Sejak kecil aku mengalami kesulitan dalam melakukan gerakan, tubuhku kaku, tidak lincah seperti teman-temanku. Semakin besar gerakanku semakin kaku, sampai akhirnya aku di bawa ke rumah sakit yang berada jauh dari desa kami tinggal. Sebetulnya orang tuaku tidak mempunyai uang untuk itu, tetapi dengan berbagai usaha yang halal akhirnya ayahku mampu mengumpulkan sedikit uang untuk berobat ke kota.
Sesampainya di rumah sakit aku ditangani oleh seorang dokter yang cantik dan baik hati, lemah lembut tutur katanya, namanya dokter Mila.
Dari pemeriksaannya ternyata aku mengalami kelainan pada tulang kaki dan tanganku, sehingga aku harus menjalani beberapa terapi untuk menormalkan kembali fungsi tulang-tulangku agar bisa berjalan dengan baik. Salah satu penyebabnya kemungkinan pada saat aku terjatuh pada usia 5 bulan itu. Baru beberapa hari aku tinggal di rumah sakit persediaan uang ayahku menipis, akhirnya dengan sangat terpaksa ayah ibu membawaku kembali ke kampung. Orang tuaku pasrah atas ujian yang Allah berikan. Apapun yang akan terjadi semua adalah kehendak-Nya. Usaha orang tuaku patut kuacungi dua jempol, bahkan bila memungkinkan empat jempol sekaligus.
Dengan telaten setiap hari ibuku melakukan terapi sendiri di rumah, sementara ayahku membuatkan aku tempat untuk belajar berjalan dari bambu. Sebelum ayahku pergi bekerja aku selalu diajak untuk melakukan latihan secara rutin dengan penuh kasih sayang. Aku melihat tidak ada sedikitpun guratan kesedihan di wajah mereka, senyum bahagia selalu menyelimuti bibirnya saat memberi semangat padaku untuk melakukan latihan tersebut. Apalagi kalau sudah melihat aku bosan, ibu selalu membujuknya dengan janji akan membuatkan aku makanan kesukaanku. Ayah pun demikian tidak pernah luput memujiku dengan perkembangan kemampuanku untuk berjalan.
Tanpa terasa aku sudah duduk di bangku SMA, aku masih selalu diantar jemput oleh ibuku karena aku memang belum dapat berjalan dengan sempurna. Jalanku masih pelan-pelan takut jatuh, ibu selalu menggandeng tanganku dan memapah aku berjalan. Kegigihan beliau dalam membimbing, benar-benar memacu hatiku untuk bertekad mewujudkan cita-citaku menjadi seorang dokter ahli tulang yang cantik dan sukses seperti Dokter Mila.
Hari demi hari kulalui dengan dukungan dan kehangatan orang tuaku, terutama ibu. Sampailah pada tahun ke 3 di SMA, prestasi belajarku melesat cepat, nilai pelajaranku sangat baik.
Pertolongan Allah pun tiba. Aku mendapatkan bantuan dari Pak Haji Sholehudin, seorang yang dermawan di kampungku, sehingga orang tuaku tidak begitu dipusingkan dengan biaya sekolahku di SMA. Walaupun demikian ayah dan ibuku tidak berhenti atau bermalas-malasan mencari nafkah, karena pada prinsipnya tidak mau merepotkan orang lain.
Pak Haji Sholeh adalah pedagang di pasar di kota, istri tercintanya telah meninggal dunia 15 tahun yang lalu. Meski usahanya sangat maju namun kehidupannya sangat sederhana. Beliau hidup bersama 5 orang anak yatim piatu di rumahnya yang sangat sederhana. Kepeduliannya kepada orang yang tidak mampu jauh lebih peduli dibandingkan dengan orang kaya yang ada di kampungku. Menurut cerita dari ibuku, sejak masih muda beliau gemar sekali bersedekah, begitu pula dengan almarhum istrinya. Baginya harta dia sesungguhnya adalah harta yang dia berikan untuk orang lain. Subhanallah!!
...Allah mendengar doa dan harapan orangtuaku dalam shalat Tahajud di keheningan malam yang sepi. Tak henti-hentinya ibu berdoa untuk kebahagiaan dan keberhasilanku...
Dengan segala keterbatasan dan dukungan dari orangtua, aku mampu menyelesaikan pendidikan di SMA dengan prestasi dan nilai yang gemilang. Acara wisuda di sekolah sangat meriah. Kami saling berpelukan, menangis karena haru bahagia. Kami sadar kami akan berpisah dengan teman-teman dan entah apakah kami akan bertemu kembali atau tidak. Kelak kami akan menjadi apa? Kami tidak tahu, semua itu adalah rahasia Ilahi.
Allah mendengar dan mengabulkan semua doa dan harapan orang tuaku, yang selalu kudengar saat ibuku selesai menunaikan shalat Tahajud di keheningan malam yang sepi. Bersamaan dengan mengalirnya airmata dari bola matanya yang indah kemudian sebait doa pun meluncur dari bibirnya. Tak henti-hentinya ibu selalu mendoakan aku, demi kebahagiaanku, keberhasilanku. Kadang aku berpikir kapankah ibu tidur? Setiap aku terbangun ibu sedang berzikir, berdoa, mengaji, shalat dan banyak lagi serangkaian ibadah yang dilakukannya.
Selepas SMA aku diterima di Perguruan Tinggi Negeri yang paling terkemuka di Indonesia, dengan jurusan yang diminati banyak pelajar SMA yaitu Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI).
Terima kasih Ya Allah, Kau mengabulkan cita-citaku menjadi mahasiswa kedokteran apalagi di Universitas Indonesia. Subhanallah tiada henti-hentinya aku bersyukur.
Mendapat kenikmatan besar dan musibah memilukan
Qadarullah, mungkin karena kelewat bahagianya mendengar aku diterima di Fakultas Kedokteran UI, ayahku kena serangan jantung kemudian meninggal dunia. Sejak itu ibuku hijrah ke Jakarta, menemaniku karena aku saat itu belum sempurna betul. Setelah mengantarkan aku ke kampus, ibu pergi bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumah seorang dokter yang kebetulan menjadi dosenku, namanya dr. Sudiyanto SpBO (dokter Spesialis Bedah Orthopedi). Dosen yang baik hati ini memiliki 2 anak yang secara kebetulan anak sulungnya adalah kakak kelasku, 3 tahun diatasku.
Dr Sudiyanto pun merasa prihatin dengan kondisiku, sehingga dengan tulus membantuku pengobatanku dengan terapi medis secara gratis. Alhamdulillah dalam jangka waktu 1,5 tahun aku sudah dapat berjalan dan tanganku dapat digerakkan dengan lentur seperti teman-temanku yang lainnya.
Sepeninggal ayah, aku mendapatkan beasiswa karena aku termasuk anak yatim yang berprestasi, dan dari keluarga yang miskin.
Hari demi hari kulalui bersama ibuku, dengan kesetiaannya ibuku selalu menemani aku dalam belajar, selalu memberi semangat, menjadi inspirasiku dalam menyelesaikan studiku. Dalam jangka waktu 5 tahun aku lulus sebagai dokter umum, kemudian dilanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi sebagai dokter spesialis bedah orthopedic, sesuai cita-citaku dulu. Pendidikan ini pun dapat kuselesaikan dalam jangka waktu 3 tahun. Allahu akbar!
...Ibu telah mengantarkan aku menjadi seorang dokter dengan kelembutan, kesabaran, ketekunan, dan doa tulus yang dikabulkan Allah...
Tibalah saatnya aku menjalani wisuda sebagai Dokter Spesialis Bedah Ortopedi. Dalam hatiku dan selalu dipenuhi rasa syukur kepada Allah. Malam hari sebelum wisuda aku tidak bisa tidur, kupandangi wajah ibuku yang sudah tampak tua kelelahan, aku hanya bisa berucap lembut: “Ibuuuuu, terima kasih karena kau telah mengantarkan aku menjadi seorang dokter dengan kelembutan, kehangatan, kesabaran, ketekunan, yang pasti doamu sangat tulus untukku, Allah telah mengabulkan doamu. Aku persembahkan gelar dan ijazahku untukmu, engkaulah yang patut mendapatkan gelar itu. Ibuuuu aku sangat mencintaimu…”
Tanpa terasa matahari pun muncul dari persembunyiannya, aku dan ibuku sibuk mempersiapkan diri untuk menghadiri upacara wisuda. Kami berangkat dengan menggunakan becak, namun tiba-tiba kami dikejutkan dengan kedatangan Dr Ade Sutisna, putra sulung Dr Sudiyanto.
Saat itu kami hendak menaiki becak yang sudah kami pesan, dengan sedikit memaksa beliau mengajak kami untuk ikut masuk ke dalam kendaraannya. Sebagai penghargaan padanya akhirnya kami mengikutinya. Sesampainya di kampus UI ternyata aku sudah ditunggu oleh Dr Sudiyanto dan istrinya.
...Subhanallah di zaman modern ini masih tersisa manusia ningrat yang mau menjadikan orang miskin menjadi menantu tanpa pertentangan...
Sepulang acara wisuda, malam harinya keluarga Dr Ade Sutisna berkunjung ke rumah kontrakan kami yang sangat kecil. Di luar dugaan, kunjungan mereka bertujuan melamarku untuk dijodohkan dengan Dr Ade. Subhanallah, kami hanya mampu menangis haru dan rasa syukur. Ternyata di zaman modern ini masih tersisa manusia ningrat yang mau menjadikan orang miskin ini menjadi menantunya tanpa proses pertentangan. Rupanya sejak aku masuk kuliah Dr. Sudiyanto sudah berniat menjodohkan aku dengan putranya. Tanpa sepengetahuan beliau dr Ade menaruh hati padaku.
Dua tahun kemudian kami menikah dan merajut keluarga sakinah hingga sekarang. Dalam kebahagiaanku, kebaikan almarhum ayahku tak pernah terlupakan. Hanya doa yang kupanjatkan kepada Allah, satu-satunya balas jasaku pada ayahku. Semoga doaku menjadi amal ayah yang tiada terputus.
Duhai ayah, seandainya saat ini Allah mengizinkanmu masih hidup, betapa bahagianya dirimu, ikut merasakan kebahagiaanku. [voa-islam.com]
Sabtu, 25 Februari 2012
What My Grappy Said..
Sabtu, 18 Februari 2012
Cinta Plastik.
Karena, aku tahu semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya,
dan kematian adalah sesuatu yang pasti,
dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi,
aku sangat tahu itu.
Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat,
adalah ternyata bahwa kematian itu
benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang,
sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku nelangsa setengah mati,
hatiku seperti tak di tempatnya,
dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.
Kau tahu sayang
rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.
Pada air mata yang jatuh kali ini,
aku selipkan salam perpisahan panjang,
pada kesetiaan yang telah kau ukir,
pada kenangan pahit manis selama kau ada.
Aku bukan hendak mengeluh,
tapi rasanya terlalu sebentar kau di sini.
Mereka mengira akulah kekasih yang baik bagimu sayang,
tanpa mereka sadari,
bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik.
Mana mungkin aku setia,
padahal memang kecenderunganku adalah mendua,
tapi kau ajarkan kesetiaan, sehingga aku setia,
kau ajarkan aku cinta,
sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.
Selamat jalan
Kau dari-NYA, dan kembali pada-NYA
dulu kau tiada untukku, dan sekarang kembali tiada.
Selamat jalan sayang
cahaya mataku, penyejuk jiwaku
selamat jalan
calon bidadari surgaku"
Air mata nenek yang sudah jatuh itu membuat suasana jadi hening seketika. Kakek yang tak pernah terlihat sedih sebelumnya, kini ku lihat airmatanya telah ada di ujung matanya. Aku dan mama disini hanya menonton apa yang sedang terjadi. Suasanan yang penuh tawa ini sekejap berubah dengan air mata tersentuh dari mereka. Dan hari ini, ku lihat rasa nenek dan kakek yang memang sudah menjadi sesuatu yang tidak bisa dipecahkan lagi, layaknya habibi dan ainun, seperti plastik, butuh ratusan tahun untuk mengurai rasa itu.
Semoga aku temukan hidup seperti mereka nanti, cinta tulus seperti plastik.
:)


















