Free Visitor Counter

EYES

click!

Sabtu, 25 Februari 2012

What My Grappy Said..

Love is just like playing golf, if you take it seriously you will often disappointed, but if you don't take it seriously it is not satisfying, so its better not to think about love. Its your time to study and work hard to prepare your future.

Sabtu, 18 Februari 2012

Cinta Plastik.

Adzan solat Isya selsai berkumandang dari jam adzan otomatis di mushola rumahku. Tidak biasanya kali ini kami akan menunaikan solat Isya berjamaah. Dentingan handphone yang berbunyi dari handphone nenek waktu itu sempat menunda solat berjamaah kami. Dilihatnya pesan BBM yang baru saja dikirimkan oleh salah seorang saudara di group keluarga. Isinya tentang tebak-tebakkan yang memang sempat mengocok perut kami semua saat itu. Tawa cekikikan kami sempat membuat lupa niat utama kami untuk solat waktu itu. Kami yang sudah mulai lelah tertawa mencoba menarik nafas. Tak lama kemudian mama kembali membuat ingatan kami kembali pada tebak-tebakan itu dan serentak membuat kami tertawa lagi. Sampai akhirnya giliran handphone kakek yang berdering. Kali ini dari salah satu contacts-nya yang mengirimkan broadcast massage nya ke kakekku.

"Mah, denger deh" Kakek yang tertawanya mulai mereda mencoba meminta perhatian kepada kita.

"Ah?"

"Bagus deh, nih" dan sementara kita masih menunggu kelanjutannya.

"apaan ki?" kataku.

"Surat Habibi Untuk Ainun"

kita pun terdiam.

"Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu

Karena, aku tahu semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya,
dan kematian adalah sesuatu yang pasti,
dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi,
aku sangat tahu itu.


Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat,
adalah ternyata bahwa kematian itu
benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang,
sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku nelangsa setengah mati,
hatiku seperti tak di tempatnya,
dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.


Kau tahu sayang
rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.


Pada air mata yang jatuh kali ini,
aku selipkan salam perpisahan panjang,
pada kesetiaan yang telah kau ukir,
pada kenangan pahit manis selama kau ada.


Aku bukan hendak mengeluh,
tapi rasanya terlalu sebentar kau di sini.


Mereka mengira akulah kekasih yang baik bagimu sayang,
tanpa mereka sadari,
bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik.


Mana mungkin aku setia,
padahal memang kecenderunganku adalah mendua,
tapi kau ajarkan kesetiaan, sehingga aku setia,
kau ajarkan aku cinta,
sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.


Selamat jalan
Kau dari-NYA, dan kembali pada-NYA
dulu kau tiada untukku, dan sekarang kembali tiada.


Selamat jalan sayang
cahaya mataku, penyejuk jiwaku
selamat jalan
calon bidadari surgaku"


Air mata nenek yang sudah jatuh itu membuat suasana jadi hening seketika. Kakek yang tak pernah terlihat sedih sebelumnya, kini ku lihat airmatanya telah ada di ujung matanya. Aku dan mama disini hanya menonton apa yang sedang terjadi. Suasanan yang penuh tawa ini sekejap berubah dengan air mata tersentuh dari mereka. Dan hari ini, ku lihat rasa nenek dan kakek yang memang sudah menjadi sesuatu yang tidak bisa dipecahkan lagi, layaknya habibi dan ainun, seperti plastik, butuh ratusan tahun untuk mengurai rasa itu.

Semoga aku temukan hidup seperti mereka nanti, cinta tulus seperti plastik.

:)

go click my account :D

twitter. facebook.
rararahma@hotmail.com

em ewh

rahmadina. Diberdayakan oleh Blogger.